Ayub (Catatan PA)

Tadi, baru saja melakukan PA ke bawah, yang mungkin merupakan PA2 terakhir saya sebelum benar2 meninggalkan Bandung untuk sebuah pekerjaan. PA kami hari ini mengisahkan pengalaman hidup seorang Ayub yang dengan tertatih2 membela perkaranya dihadapan Tuhan seakan-akan mau mengingatkan Tuhan bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apa-apa, namun tertimpa kemalangan juga.

Kisah Ayub adalah sebuah kisah yang mengangkat cerita bahwa seakan-akan kuasa gelap dengan seenaknya merajalela sedangkan Tuhan itu sendiri adalah baik yang tidak mungkin akan membiarkan anak2Nya mengalami penderitaan,

serta upaya untuk mengajarkan agar orang hidup benar dan saleh, dan pada saat yang sama, juga melukiskan dengan sinis gambaran tentang hidup yang benar..

Lalu muncul sebuah pertanyaan, DIMANA KEADILAN TUHAN?

macam2 orang di dunia ini menganggap bahwa hidup mengikuti Tuhan pasti senang , tiada keluh kesah, dan apalagi sampai mengalami penderitaan. Tidak mungkin bagi seorang ketua PMK, atau seorang Gembala jemaat yang harus menderita suatu penyakit yang mematikan dikala menjalankan kesalehan-kesalehan dan ibadah pelayananNya. yang lebih parah, Tidak mungkin seorang konglomerat Kristen yang harus mengalami kebangkrutan dikala sebagian besar hartanya sudah diberikan kepada gereja.

Hidup senang, hidup senang, bahagia, sejahtera, karena aku hidup saleh dihadapan Tuhan.

Bagi Ayub hal tersebut juga mengganggu pikirannya, bahkan teramat sakit hatinya ketika teman2nya sendiri menuduh ia telah melakukan dosa yang besar. namun Ayub berpikir bahwa itu terlalu dangkal. Tidak mungkin dan tidak sepantasnya ayub mendapat hukuman oleh karena dosa-dosanya. Ia menyeringai di hadapan Tuhan, “Apa salahku, apa dosaku, dimana KEADILANMU TUHAN??”

Pujilah Tuhan semesta Alam, yang tidak menjawab pertanyaan Ayub dengan alasan mengapa Tuhan mengizinkan kemalangan itu terjadi, namun dengan sebuah pengertian akan keagungan, hikmat, dan kebijaksaan Allah yang membuat Ayub menyesali perkataan kerasnya kepada Tuhan.

“Dimana Keadilan Tuhan?” dijawab oleh Ayub dengan sebuah perkataan ”..tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau”. yang merupakan sebuah penghiburan oleh penampakan Allah dan kenyataan bahwa ia telah memandang Allah yang hidup. hal ini menunjukkan bahwa Ia akhirnya lebih peduli dengan APAKAH ALLAH HADIR ATAU TIDAK di dalam kehidupan manusia daripada sekedar menggali jawaban dari persoalan apakah Allah adil atau tidak.

Apa yang kami tarik bagi kehidupan kami?

Allah adalah Allah yang adil, Ia adalah Kasih yang sudah dipastikan dengan pengorbanan HambaNya yang menderita. tidak ada satupun alasan yang dapat mengingkari keadilan dan kasih Allah, namun persoalan disini, apakah kami adalah orang yang senantiasa menggumulkan kehadiran Allah di setiap segi kehidupan kami, walau sekecil apapun itu? kehidupan sehari-hari, kehidupan kampus, praktikum, teman belajar, teman bermain, adakah Allah disitu?

atau, apakah kami hanya berkutat dengan mencari keadilan Allah (yang sudah pasti terbukti Adil) , dan mengganggap bahwa kami akan terus diberkati dengan melakukan kesalehan-kesalehan pribadi tanpa sekalipun mencari kehadiran Allah dalam hidup kami?

Doa:

Terimakasih Tuhan, kisah Ayub menginspirasi kami untuk selalu menggumulkan kehidupan kami bersama dengan Engkau, Kuatkan dan teguhkan hati kami, Amin

Cisitu, 4 Agustus 2011

LIVED by Grace and Mercy

view archive